Banyak prestasi yang membanggakan Indonesia justru ditorehkan oleh wanita. Contohnya, Anggun C. Sasmi yang go international di bidang musik dengan usaha dan keberaniannya.
Sebelum Anggun Cipta Sasmi berkarir di luar negeri, ia adalah seorang penyanyi pop-rock wanita yang meniti karirnya di Indonesia. Berasal dari keluarga seniman dan keturunan bangsawan asal Yogyakarta, Anggun diajarkan oleh keluarganya dengan nilai kedisiplinan dan edukasi yang baik. Orang tuanya memberikan bekal teknik vokal dan mengajarinya bermain piano. Mereka mendampinginya dalam berkarir di dunia musik Indonesia hingga kesuksesan diraih, di antaranya penghargaan sebagai ‘Artis Indonesia Terpopuler’ pada tahun 1990-1991.
Pada tahun 1992, Anggun bertemu dengan seorang pria berkewarganegaraan Perancis. Meskipun sempat ditentang keluarga karena terlalu muda, keduanya menikah dan De Gea menjadi manajernya. Masa-masa awal Anggun di Eropa diawali dengan gegar budaya dan masalah finansial serta kekecewaan bahwa demo rekaman yang ia kirimkan ke perusahaan-perusahaan rekaman tidak direspon.
Anggun tidak menyerah dan tetap berjuang hingga akhirnya merilis album berbahasa Perancis pertamanya ‘Au Nom de La Lune’ pada tahun 1997. Kiprah Anggun di dunia internasional tetap disertai dengan sentuhan elemen musik khas Indonesia seperti bunyi instrumen yang khas Indonesia. Anggun tetap ingin mengharumkan nama Indonesia di dunia lewat suara, musiknya, dan terutama dengan dirinya sendiri. Sebagai ‘Wong Kene’, Anggun tidak pernah mencoba mengganti rambut hitam panjangnya yang khas dan ia tetap bangga dengan kulit sawo matang khas wanita Indonesia.
Anggun membuat album dalam Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan mengisi tangga lagu di Eropa dan kemudian Amerika Utara. Anggun berhasil menjadi musisi Indonesia pertama yang berhasil mengisi tangga lagu Billboard di Amerika yang sangat susah ditembus itu.
Sekitar dua puluh tahun kemudian, pelantun lagu ‘Mimpi’, ‘Snow On The Sahara’ dan ‘Tua-Tua Keladi’ berhasil meraih reputasinya di kancah musik internasional. Kini, ia dipilih untuk mewakili Indonesia menjadi juri kompetisi menyanyi X-Factor untuk regional Asia.
Hebat tenan yo Rek!
Sebelum Anggun Cipta Sasmi berkarir di luar negeri, ia adalah seorang penyanyi pop-rock wanita yang meniti karirnya di Indonesia. Berasal dari keluarga seniman dan keturunan bangsawan asal Yogyakarta, Anggun diajarkan oleh keluarganya dengan nilai kedisiplinan dan edukasi yang baik. Orang tuanya memberikan bekal teknik vokal dan mengajarinya bermain piano. Mereka mendampinginya dalam berkarir di dunia musik Indonesia hingga kesuksesan diraih, di antaranya penghargaan sebagai ‘Artis Indonesia Terpopuler’ pada tahun 1990-1991.
Pada tahun 1992, Anggun bertemu dengan seorang pria berkewarganegaraan Perancis. Meskipun sempat ditentang keluarga karena terlalu muda, keduanya menikah dan De Gea menjadi manajernya. Masa-masa awal Anggun di Eropa diawali dengan gegar budaya dan masalah finansial serta kekecewaan bahwa demo rekaman yang ia kirimkan ke perusahaan-perusahaan rekaman tidak direspon.
Anggun tidak menyerah dan tetap berjuang hingga akhirnya merilis album berbahasa Perancis pertamanya ‘Au Nom de La Lune’ pada tahun 1997. Kiprah Anggun di dunia internasional tetap disertai dengan sentuhan elemen musik khas Indonesia seperti bunyi instrumen yang khas Indonesia. Anggun tetap ingin mengharumkan nama Indonesia di dunia lewat suara, musiknya, dan terutama dengan dirinya sendiri. Sebagai ‘Wong Kene’, Anggun tidak pernah mencoba mengganti rambut hitam panjangnya yang khas dan ia tetap bangga dengan kulit sawo matang khas wanita Indonesia.
Anggun membuat album dalam Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan mengisi tangga lagu di Eropa dan kemudian Amerika Utara. Anggun berhasil menjadi musisi Indonesia pertama yang berhasil mengisi tangga lagu Billboard di Amerika yang sangat susah ditembus itu.
Sekitar dua puluh tahun kemudian, pelantun lagu ‘Mimpi’, ‘Snow On The Sahara’ dan ‘Tua-Tua Keladi’ berhasil meraih reputasinya di kancah musik internasional. Kini, ia dipilih untuk mewakili Indonesia menjadi juri kompetisi menyanyi X-Factor untuk regional Asia.
Hebat tenan yo Rek!
