Sopo sing doyan ngerungokno musik Jazz?
Jazz adalah genre musik yang spesial tapi cenderung bukan musik yang ‘populer’ di Indonesia. Namun demikian, musik jazz adalah musik yang sudah biasa dimainkan di lingkungan masyarakat Amerika Serikat terutama di New York. Baru saja kita juga bangga dengan pianis jazz cilik asal Bali yaitu Joey Alexander yang mengharumkan nama Indonesia di pesta musik terbesar di Amerika, Grammy Awards.
Arek Suroboyo patut bangga karena Surabaya juga punya musisi jazz yang legendaris di kalangan musisi jazz Indonesia, Asia, bahkan dunia, yaitu Bubi Chen. Bubi Chen lahir di Surabaya pada tanggal 9 Februari 1938. Jadi, jauh sebelum era Joey Alexander. Ayah Bubi Chen adalah pemain biola klasik. Bubi, anak bungsu dari 9 bersaudara, dibawa kursus piano dengan pianis berkebangsaan Italia dan ketika berusia 12 tahun beliau melanjutkan kursus piano klasik dengan pria berkebangsaan Swiss.
Walaupun sempat mempelajari aliran piano klasik, ternyata jazz adalah jiwa Bubi Chen yang sesungguhnya. Selanjutnya, Bubi Chen berlatih jazz secara otodidak, surat menyurat teori, lalu sempat kursus tertulis di Wesco School of Music, New York. Di Surabaya, Bubi membentuk grup jazz bernama The Circle dan juga tergabung dalam Indonesian All Stars bersama Jack Lesmana (ayah dari produser film Mira Lesmana dan musisi Indra Lesmana).
Album-album Bubi Chen telah didengarkan dan diulas secara positif oleh kritikus musik di Amerika yang kabarnya cukup susah menerima musisi dari luar Amerika Serikat. Majalah kiblat jazz sedunia yaitu majalah DownBeat juga pernah menganugerahinya sebagai Top 5 Pianis Jazz Terbaik Sedunia. Meski demikian, beliau memutuskan mengajar di Surabaya dan menghasilkan rekaman-rekaman untuk Indonesia. Bubi Chen memilih untuk tinggal di tanah air dan membangun dunia musik jazz di Surabaya ini meskipun pernah berulang kali ditawari kewarganegaraan di luar.
“Sebenarnya kalau keluar (negeri), karirnya pasti lebih naik, cuman Papa saya memang senang di Indonesia. Katanya, ‘Kalau untuk kelasku di Amerika sudah banyak tapi kalau di Indonesia belum ada. Jadi Indonesia lebih butuh saya’,” ungkap putra kedua Bubi, Benny Chen.
Bubi Chen meninggal 17 Februari 2012 di Semarang dalam usia 74 tahun. Beberapa waktu sebelum itu, beliau masih sempat tampil di acara Jazz Traffic di Surabaya. Semasa hidupnya, Bubi Chen menerima penghargaan Satya Lencana kategori pengabdian seni dari mantan presiden Megawati dan setahun kemudian penghargaan Jazz Living Legend diberikan oleh Peter F. Gontha pada Java Jazz Festival pertama dan mendapatkan Life Achievement Award dari Gubernur Jawa Timur karena jasanya memperkenalkan Surabaya ke dunia internasional lewat musik jazz.
Wong Suroboyo memang hebat, Rek!
Jazz adalah genre musik yang spesial tapi cenderung bukan musik yang ‘populer’ di Indonesia. Namun demikian, musik jazz adalah musik yang sudah biasa dimainkan di lingkungan masyarakat Amerika Serikat terutama di New York. Baru saja kita juga bangga dengan pianis jazz cilik asal Bali yaitu Joey Alexander yang mengharumkan nama Indonesia di pesta musik terbesar di Amerika, Grammy Awards.
Arek Suroboyo patut bangga karena Surabaya juga punya musisi jazz yang legendaris di kalangan musisi jazz Indonesia, Asia, bahkan dunia, yaitu Bubi Chen. Bubi Chen lahir di Surabaya pada tanggal 9 Februari 1938. Jadi, jauh sebelum era Joey Alexander. Ayah Bubi Chen adalah pemain biola klasik. Bubi, anak bungsu dari 9 bersaudara, dibawa kursus piano dengan pianis berkebangsaan Italia dan ketika berusia 12 tahun beliau melanjutkan kursus piano klasik dengan pria berkebangsaan Swiss.
Walaupun sempat mempelajari aliran piano klasik, ternyata jazz adalah jiwa Bubi Chen yang sesungguhnya. Selanjutnya, Bubi Chen berlatih jazz secara otodidak, surat menyurat teori, lalu sempat kursus tertulis di Wesco School of Music, New York. Di Surabaya, Bubi membentuk grup jazz bernama The Circle dan juga tergabung dalam Indonesian All Stars bersama Jack Lesmana (ayah dari produser film Mira Lesmana dan musisi Indra Lesmana).
Album-album Bubi Chen telah didengarkan dan diulas secara positif oleh kritikus musik di Amerika yang kabarnya cukup susah menerima musisi dari luar Amerika Serikat. Majalah kiblat jazz sedunia yaitu majalah DownBeat juga pernah menganugerahinya sebagai Top 5 Pianis Jazz Terbaik Sedunia. Meski demikian, beliau memutuskan mengajar di Surabaya dan menghasilkan rekaman-rekaman untuk Indonesia. Bubi Chen memilih untuk tinggal di tanah air dan membangun dunia musik jazz di Surabaya ini meskipun pernah berulang kali ditawari kewarganegaraan di luar.
“Sebenarnya kalau keluar (negeri), karirnya pasti lebih naik, cuman Papa saya memang senang di Indonesia. Katanya, ‘Kalau untuk kelasku di Amerika sudah banyak tapi kalau di Indonesia belum ada. Jadi Indonesia lebih butuh saya’,” ungkap putra kedua Bubi, Benny Chen.
Bubi Chen meninggal 17 Februari 2012 di Semarang dalam usia 74 tahun. Beberapa waktu sebelum itu, beliau masih sempat tampil di acara Jazz Traffic di Surabaya. Semasa hidupnya, Bubi Chen menerima penghargaan Satya Lencana kategori pengabdian seni dari mantan presiden Megawati dan setahun kemudian penghargaan Jazz Living Legend diberikan oleh Peter F. Gontha pada Java Jazz Festival pertama dan mendapatkan Life Achievement Award dari Gubernur Jawa Timur karena jasanya memperkenalkan Surabaya ke dunia internasional lewat musik jazz.
Wong Suroboyo memang hebat, Rek!
