Jangan hanya mengenal Taufik Hidayat sebagai pebulu tangkis tunggal pria nomor satu di Indonesia. Kita patut bangga sahabat LINE, bahwa ada nama Sony Dwi Kuncoro yang juga punya prestasi membanggakan sebagai pemain tunggal putra bulu tangkis Indonesia. Udah tau belum kalau Sony adalah Arek Suroboyo, lho! Kabar terbarunya, Arek Suroboyo kelahiran Surabaya, 7 Juli 1984 ini baru gres merebut titel juara untuk nomor tunggal putra di turnamen bulu tangkis Singapura Terbuka 2016 (Singapore Open). Huebat tenan, Rek!
Meskipun di final Sony berhasil mengalahkan pemain So Wan Ho dari Korea Selatan, ternyata perlawanan sengitnya dengan pemain kawakan China yaitu Lin Dan-lah yang menjadi kunci kepercayaan diri Sony untuk memenangi kompetisi Singapura Terbuka ini. Seperti yang kita tahu, Lin Dan adalah pemain top yang sulit dikalahkan dan Sony berhasil memberikan perlawanan yang sengit dan menstabilkan permainan.
Di balik cerita kemenangan itu, tak banyak yang tahu perjalanan karir Sony sempat kurang mulus. Ketika Indonesia memuja Taufik Hidayat dan perolehan Emas-nya di Olimpiade Athena 2004, Sony Dwi Kuncoro memang hadir sebagai junior berusia 20 tahun dan memenangkan Perunggu untuk Indonesia. Namun, meski digadang-gadang sebagai penerus Taufik Hidayat, Sony bersusah payah untuk mempertahankan posisinya di jajaran papan atas tunggal putra dunia akibat cedera berkelanjutan yang dideritanya.
Pastinya, ‘menyerah’ tidak ada dalam kamus atlet. Di usianya yang hampir 32 tahun ini, Sony pelan-pelan bangkit kembali. Semangatnya tidak hangus ketika namanya dicoret dari Pelatnas. Awalnya, ia tidak diperhitungkan di Singapura Terbuka. Tapi, begitu berhasil mengalahkan jagoan seperti Lin Dan, publik mulai percaya padanya kembali.
Arek Suroboyo pancen nggak mudah mutung! Semangat, Sony!
Meskipun di final Sony berhasil mengalahkan pemain So Wan Ho dari Korea Selatan, ternyata perlawanan sengitnya dengan pemain kawakan China yaitu Lin Dan-lah yang menjadi kunci kepercayaan diri Sony untuk memenangi kompetisi Singapura Terbuka ini. Seperti yang kita tahu, Lin Dan adalah pemain top yang sulit dikalahkan dan Sony berhasil memberikan perlawanan yang sengit dan menstabilkan permainan.
Di balik cerita kemenangan itu, tak banyak yang tahu perjalanan karir Sony sempat kurang mulus. Ketika Indonesia memuja Taufik Hidayat dan perolehan Emas-nya di Olimpiade Athena 2004, Sony Dwi Kuncoro memang hadir sebagai junior berusia 20 tahun dan memenangkan Perunggu untuk Indonesia. Namun, meski digadang-gadang sebagai penerus Taufik Hidayat, Sony bersusah payah untuk mempertahankan posisinya di jajaran papan atas tunggal putra dunia akibat cedera berkelanjutan yang dideritanya.
Pastinya, ‘menyerah’ tidak ada dalam kamus atlet. Di usianya yang hampir 32 tahun ini, Sony pelan-pelan bangkit kembali. Semangatnya tidak hangus ketika namanya dicoret dari Pelatnas. Awalnya, ia tidak diperhitungkan di Singapura Terbuka. Tapi, begitu berhasil mengalahkan jagoan seperti Lin Dan, publik mulai percaya padanya kembali.
Arek Suroboyo pancen nggak mudah mutung! Semangat, Sony!
