Inget-inget karo Pasar Atom, ada dua kata yang muncul di ingatan kita: ‘kemringet’ karo ‘semrawut’. Ya to?! Tapi ada juga yang langsung mikirin mau belanja baju baru atau mau jajan panganan enak. Sampe gowo mulih barang, Rek!
Intinya, meskipun pusat perbelanjaan lain menawarkan kenyamanan seperti sudah ber-AC, tatanan yang rapi, dan tenant-tenant yang lengkap mulai dari restoran, supermarket, bioskop dan tempat berbelanja, Arek Suroboyo tetep mbalik maneh seneng belonjo nang Pasar Atom. Panas-panas, adoh-adoh yo tetep dibelani to.
Opo’o yo? Nggak lain nggak bukan karena Arek Suroboyo bertumbuh dengan Pasar Atom. Didirikan sejak tahun 1972, siapa sih yang nggak pernah ikutan keluarga atau saudara-saudara ke Pasar Atom? Pasar ini menjadi identik dengan masyarakat Tionghoa di Surabaya karena mayoritas penjualnya berasal dari etnis Tionghoa yang turun temurun ‘buka toko’ di sini.
Seringnya, transaksi jual beli di Pasar Atom tak lengkap tanpa tawar menawar. Gak lego atine lek gak nawar to?! Kebiasaan tawar menawar dalam bahasa khas Suroboyoan dengan dialek campur-campur antara Hokkien-Mandarin dan Jawa Suroboyoan. Nggak heran Pasar yang satu ini nggak pernah sepi pengunjung, semuanya ada di sini! Mulai dari butik baju, jajanan pasar, penjahit baju sampai pusat jajan dan makanan, ada! Oh ya, Pasar Atom yang tutup di sore hari membuat pengunjung setianya bela-belain menghabiskan waktu seharian sampai Pasar Atom tutup.
Iling ora, kapan terakhir awakmu lunga nang Pasar Atom?
Intinya, meskipun pusat perbelanjaan lain menawarkan kenyamanan seperti sudah ber-AC, tatanan yang rapi, dan tenant-tenant yang lengkap mulai dari restoran, supermarket, bioskop dan tempat berbelanja, Arek Suroboyo tetep mbalik maneh seneng belonjo nang Pasar Atom. Panas-panas, adoh-adoh yo tetep dibelani to.
Opo’o yo? Nggak lain nggak bukan karena Arek Suroboyo bertumbuh dengan Pasar Atom. Didirikan sejak tahun 1972, siapa sih yang nggak pernah ikutan keluarga atau saudara-saudara ke Pasar Atom? Pasar ini menjadi identik dengan masyarakat Tionghoa di Surabaya karena mayoritas penjualnya berasal dari etnis Tionghoa yang turun temurun ‘buka toko’ di sini.
Seringnya, transaksi jual beli di Pasar Atom tak lengkap tanpa tawar menawar. Gak lego atine lek gak nawar to?! Kebiasaan tawar menawar dalam bahasa khas Suroboyoan dengan dialek campur-campur antara Hokkien-Mandarin dan Jawa Suroboyoan. Nggak heran Pasar yang satu ini nggak pernah sepi pengunjung, semuanya ada di sini! Mulai dari butik baju, jajanan pasar, penjahit baju sampai pusat jajan dan makanan, ada! Oh ya, Pasar Atom yang tutup di sore hari membuat pengunjung setianya bela-belain menghabiskan waktu seharian sampai Pasar Atom tutup.
Iling ora, kapan terakhir awakmu lunga nang Pasar Atom?
